Satu hal yang harus kita sadari adalah bahwa sebenarnya Tuhan tidak membutuhkan kita, kitalah yang membutuhkan Tuhan. Landasan bahwa kita membutuhkan Tuhan bukan saja karena kita adalah makhluk ciptaan yang terbatas dalam segala hal yang oleh karenanya membutuhkan perlindungan Tuhan, tetapi juga makhluk ciptaan yang memiliki kodrat atau nature dan kita harus menyelenggarakan hidup sesuai dengan nature atau kodrat tersebut.
Kita memerlukan Tuhan sebab didalam Dia kita menemukan bukan saja perlindungan dan berkat-Nya tetapi juga tempat dimana kita menyelenggarakan hidup sesuai dengan kodrat atau nature kita. Kalau Tuhan mencari, memperhatikan dan mengejar kita sehingga Ia "menangkap" kita, dasarnya bukan karena Tuhan membutuhkan kita tetapi karena Ia mengasihi kita. Ia tahu bahwa kita tidak dapat hidup tanpa Tuhan berhubung kita terbatas dalam segala hal dan diluar Tuhan kita tidak dapat menyelenggarakan hidup sesuai dengan kodrat atau nature kita.
Kata "menangkap" diatas meminjam Filipi 3:12 Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. Teks asli Alkitab kata "menangkap" dari akar kata "katalambano" yang berarti memahami, mencapai dan memiliki. Tuhan memahami keadaan kita, mencapai dan menangkap kita karena Tuhan mengasihi kita. Kasih akan menggerakkan seseorang untuk mengejar orang yang dikasihi untuk memberi apa yang terbaik. Demikianlah sikap dan perlakuan Tuhan terhadap kita, Ia memberi yang terbaik bagi kita bukan saja perlindungan dan berkat-Nya tetapi kesempatan untuk mengabdi dan melayani Tuhan.
Kesempatan menikmati kasih Tuhan ini tidak boleh disia-siakan. Kalau sikap hati dan sikap hidup kita terus menerus tidak menghargai Tuhan atau tidak mau mengerti kehendak-Nya itu berarti kita tidak dapat menerima kasih-Nya atau menolak anugerah-Nya. Dalam hal ini bukan Tuhan yang salah tetapi pihak manusianya. Seperti peristiwa yang terjadi pada zaman Lot (Kej 19). Keluarga Lot ditangkap Tuhan, tetapi istri Lot menolaknya, ia tidak dengar-dengaran sehingga karya keselamatan Tuhan atas hidupnya secara pribadi tidak terealisir.
Demikian pula undangan Tuhan terhadap orang Muda kaya yang ditulis Injil Markus (10:17-27). Orang muda ini sebenarnya mendapat kasih Tuhan secara istimewa, Alkitab barkata bahwa Tuhan "menaruh kasih kepadanya", maka Tuhan berkata: "Jual segala milikmu, bagikan kepada orang miskin dan datanglah ikut Aku". Namun undangan istimewa ini tidak diresponi secara benar, ia pergi sebab "hartanya banyak". Harta telah memasung hatinya sehingga ia tidak sanggup dipasung oleh Tuhan. Tuhan menarik pria ini untuk mengikut Tuhan bukan karena Tuhan membutuhkannya, tetapi ia membutuhkan Tuhan mengingini sesuatu hidup yang berkualitas atau hidup kekal. Oleh sebab itu kita tidak boleh lagi dikesankan dan mengesankan kepada orang lain, apalagi mengajarkan bahwa Tuhan seolah-olah membutuhkan kita. Untuk ini ada dua catatan penting yang harus diperhatikan.
Pertama, hendaknya kita tidak beranggapan bahwa Tuhan membutuhkan kita untuk memuji dan menyembah Dia. Kiranya kita tidak berpikir seolah-olah Tuhan adalah pribadi yang gila hormat. Orang yang gila hormat sangat tergantung lingkungannya, sebab ia mengharapkan lingkungannya memberi penghormatan kepadanya. Ia tidak dapat hidup tanpa lingkungan yang menghormatinya. Berbeda dengan Tuhan, Tuhan memiliki kerajaan dimana berlaksa-laksa makhluk sorgawi memuji menyembah Tuhan dengan kualitas yang sangat sempurna. Dikatakan dalam Alkitab bahwa para malaikat dan makhluk sorgawi memuji dan menyembah Tuhan selamanya (Wahyu 4:8-11. "Dan keempat makhluk itu masing-masing bersayap enam, sekelilingnya dan di sebelah dalamnya penuh dengan mata, dan dengan tidak berhenti-hentinya mereka berseru siang dan malam: "Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Maha Kuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang". Dan setiap kali makhluk-makhluk itu mempersembahkan puji-pujian, dan hormat dan ucapan syukur kepada Dia, yang duduk diatas takhta itu dan yang hidup sampai selama-lamanya, maka tersungkurlah kedua puluh empat tua-tua itu dihadapan Dia yang duduk diatas takhta itu, dan mereka menyembah Dia yang hidup sampai selama-lamanya. Dan mereka melemparkan mahkotanya dihadapan takhta itu, sambil berkata: "Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan".)
Demikianlah kalau kita diperkenan memuji dan menyembah Tuhan itu berarti kita dipersiapkan menjadi makhluk sorgawi, penghuni kerajaan-Nya. Bukan karena Tuhan gila hormat. Jadi kalau kita tidak sungguh-sungguh mengangkat hati memuji dan menyembah Tuhan atau kalau kita menolak belajar memuji menyembah Tuhan adalah satu hal yang bukan saja patut disayangkan tetapi juga sangat membahayakan karena dapat mencelakakan. Tidak ada orang yang tidak menghormati Tuhan masuk kerajaan-Nya. Sosok pribadi yang pertama kali menolak memuji dan menyembah Tuhan tetapi sebaliknya menuntut kedudukan yang sama dengan Tuhan adalah Lucifer. Karena pemberontakannya ia dibuang kedalam api kekal dan tidak beroleh kesempatan lagi menjadi sekutu Tuhan. Lucifer menolak beraku makhluk ciptaan yang harus tunduk memberi hormat dan pujian kepada Tuhan. Ia tidak menerima naturnya atau kodratnya sebagai makhluk ciptaan. Padahal kalau menerima dengan lapang dan ucapan syukur natur atau kodratnya, sangat membahagiakan, tetapi karena keserakahannya Lucifer memberontak. Pemberontakannya merupakan isyarat seolah-oleh menjadi makhluk ciptaan tidak cukup memberikan kesenangan, kebahagiaan dan kelimpahan. Lucifer menuntut lebih dari sekedar menjadi makhluk ciptaan, akibatnya mengalami kedahsyatan kebinasaan. Spirit seperti ini dihembuskan kepada manusia pertama di Eden dalam bujukan: "Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat" (Kej 3:4-5). Karenanya kita harus menerima dengan lapang kodrat atau nature kita sebagai makhluk ciptaan, dengan demikian kita dapat menempatkan diri dihadapan-Nya dengan benar. Memuji dan menyembah Tuhan dari sikap hati yang benar merupakan irama hidup kita yang sangat membahagiakan. Memuji dan menyembah Tuhan sebenarnya bukan hanya masalah mengucapkan syair pujian dan penyembahan atau memahami fluktuasi atau turun naiknya nada, tetapi pengenalan akan Tuhan. Seseorang harus mengenal Tuhan secara benar dari pa yang Alkitab ajarkan kemudian belajar menggumuli kebenaran itu dari hari ke hari, sehingga mengalamu Tuhan secara konkrit. Dari pengenalan tersebut terbangun pemahaman akan Tuhan. Pemahaman tersebut membangkitkan kekaguman akan Tuhan dan kekaguman tersebut melandasi kita memuji dan menyembah Tuhan. Hendaknya kita tidak beranggapan bahwa tanpa kita dibumi ini memuliakan nama Tuhan, maka nama-Nya tidak dimuliakan. Kalau manusia tidak memuji Tuhan, Tuhan sanggup membuat batu-batu memuji Tuhan.
Kedua, hendaknya kita tidak beranggapan bahwa Tuhan memaksa kita untuk melakukan pekerjaan-Nya atau mendesak kita membantu pekerjaan-Nya guna melengkapi rencana-Nya. Dengan ini kita beranggapan Tuhan membutuhkan kita. Tuhan sebenarnya bisa tidak melibatkan kita dalam rencana-rencana besar-Nya. Tuhan bisa mengerjakan-Nya sendiri. Ia sangat mampu baik dengan tangan-Nya sendiri atau melalui para malaikat-Nya, tetapi Tuhan tidak bertindak demikian. Tuhan melibatkan kita dalam pekerjaan-Nya atau hidup mengabdi kepada-Nya sebab Tuhan mau kita menemukan tempat kita sebagai makhluk ciptaan yang pada naturnya mengabdi kepada Tuhan. Sekaligus Tuhan hendak memberi kesempatan kepada kita untuk dimuliakan pada waktu Tuhan Yesus dimuliakan. Tuhan tidak tunduk kepada siapa-siapa, Ia tunduk kepada diri-Nya sendiri. Dalam dirinya ada hukum, apa yang ditabur orang itu juga dituainya. Tidak mungkin Tuhan memberikan mahkota tanpa salib, upah tanpa kerja, kemuliaan tanpa penderitaan, perhentian tanpa kekekalan. Alkitab mencatat bahwa hanya orang yang menderita bersama dengan Tuhan yang akan dimuliakan (Roma 8:17 Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia). Walaupun kita adalah anak bagi Allah Bapa kita, tetapi kita tidak akan menjadi ahli waris kalau kita tidak berlelah untuk pekerjaan-Nya.
Pelayanan pekerjaan yang dipercayakan kepada kita adalah salib yang membuat kita merasa lelah atau benar-benar menderita. Penderitaan itu antara lain: penguasaan diri agar tidak menjadi batu sandungan, korban waktu, korban tenaga, uang harta kita dan lain sebagainya untuk keselamatan orang lain dan pendewasaannya. Ini adalah pekerjaan yang menuntut segenap hidup kita. Para pelayan Tuhan harus menawarkan proyek-proyek pekerjaan Tuhan kepada jemaat tanpa takut-takut kepada jemaat. Takut di cap mata duitan, memanipulasi pelayanan dan lain sebagainya. Juga menghindari sikap seolah-olah Tuhan tidak berdaya dan kita mengemis. Mengemis disini maksudnya adalah bahwa Gereja tidak boleh "nunduk-nunduk jual diri" kepada para "pemodal" supaya mendapat dukungan finansial untuk pekerjaan-Nya. Kesempatan berkorban kepada Tuhan adalah hal luar biasa.
Kita lihat pada saat pemilu presiden dan wakil presiden misalnya, tentu banyak orang memberi dukungan calonnya. Motif yang bisa timbul adalah kalau calon yang di dukung menjadi pemimpin dan petinggi negara maka si pendukung bisa "kebagian" rezeki atau paling tidak memiliki relasi penguasa untuk "memback-up hidupnya dan keluarganya". Mengapa kita tidak berbuat demikian bagi Tuhan? Tentu dukungan kita kepada pekerjaan-Nya motif utamanya bukan hal tersebut, kita mendukung pekerjaan-Nya karena kita telah menerima kebaikan-Nya dalam hidup kita adalah miliknya yang harus dipersembahkan sepenuh bagi Tuhan pemilik hidup kita. Satu kali nanti kalau Tuhan menyatakan diri kita akan dimuliakan bersama-sama dengan Dia dalam kerajaan-Nya. Perlu kita mencatat satu peristiwa dalam Alkitab mengenai sikap Tuhan terhadap orang pilihan yang tidak dapat dipercayai sehingga Tuhan menarik kepercayaan tersebut dan menyerahkannya kepada orang lain. Dikisahkan mengenai raja yang ditunjuk untuk menggembalakan Israel umat Allah, tetapi raja itu yaitu Saul tidak menjadi hamba yang baik bagi Tuhan yang memberi mandat kepadanya untuk melayani-Nya. Tuhan mencopot jabatan raja tersebut dan memberikannya kepada orang lain, yaitu Daud seorang yang berkenan kepada Tuhan.
Hal ini yang paling saya takutkan, kalau kita menolak pekerjaan yang Tuhan berkenan percayakan kepada kita Tuhan dapat menggantikannya kepada orang lain. Ini berarti kita tidak akan berkesempatan dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus. Kalau kita diperkenankan mengambil bagian dalam pekerjaan-Nya dengan waktu, tenaga dan harta kita itu adalah anugerah sebab melalui kita akan menerima yang jauh lebih berharga dari apapun yang kita korbankan bagi Tuhan hari ini. Bila kesempatan untuk melayani Tuhan belum tertutup, mari kita melayani-Nya. Melayani Tuhan hendaknya menjadi irama hidup kita, seperti Tuhan Yesus berkata: Makananku adalah melakukan kehendak bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Yoh 4:34).
Tuhan mengatakan ini ketika Ia menantikan seorang perempuan Samaria yang kesepian dan kehausan damai sejati yaitu damai Tuhan. Wanita yang bergulir menuju kegelapan abadi ini ditangkap Tuhan dan ia menerima-Nya. Akhirnya memuji, menyembah Tuhan serta melayani-Nya bagi kita adalah kebutuhan. Kita harus berprinsip tanpa hal itu lebih baik kita tidak hidup atau tidak menjadi manusia. Doa kita: Tuhan beri aku kesempatan untuk ini. Aku membutuhkan Engkau bukan karena berkat-berkat-Mu yang kunikmati tetapi juga kesempatan untuk mengabdi dan melayani-Mu..
Kita memerlukan Tuhan sebab didalam Dia kita menemukan bukan saja perlindungan dan berkat-Nya tetapi juga tempat dimana kita menyelenggarakan hidup sesuai dengan kodrat atau nature kita. Kalau Tuhan mencari, memperhatikan dan mengejar kita sehingga Ia "menangkap" kita, dasarnya bukan karena Tuhan membutuhkan kita tetapi karena Ia mengasihi kita. Ia tahu bahwa kita tidak dapat hidup tanpa Tuhan berhubung kita terbatas dalam segala hal dan diluar Tuhan kita tidak dapat menyelenggarakan hidup sesuai dengan kodrat atau nature kita.
Kata "menangkap" diatas meminjam Filipi 3:12 Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. Teks asli Alkitab kata "menangkap" dari akar kata "katalambano" yang berarti memahami, mencapai dan memiliki. Tuhan memahami keadaan kita, mencapai dan menangkap kita karena Tuhan mengasihi kita. Kasih akan menggerakkan seseorang untuk mengejar orang yang dikasihi untuk memberi apa yang terbaik. Demikianlah sikap dan perlakuan Tuhan terhadap kita, Ia memberi yang terbaik bagi kita bukan saja perlindungan dan berkat-Nya tetapi kesempatan untuk mengabdi dan melayani Tuhan.
Kesempatan menikmati kasih Tuhan ini tidak boleh disia-siakan. Kalau sikap hati dan sikap hidup kita terus menerus tidak menghargai Tuhan atau tidak mau mengerti kehendak-Nya itu berarti kita tidak dapat menerima kasih-Nya atau menolak anugerah-Nya. Dalam hal ini bukan Tuhan yang salah tetapi pihak manusianya. Seperti peristiwa yang terjadi pada zaman Lot (Kej 19). Keluarga Lot ditangkap Tuhan, tetapi istri Lot menolaknya, ia tidak dengar-dengaran sehingga karya keselamatan Tuhan atas hidupnya secara pribadi tidak terealisir.
Demikian pula undangan Tuhan terhadap orang Muda kaya yang ditulis Injil Markus (10:17-27). Orang muda ini sebenarnya mendapat kasih Tuhan secara istimewa, Alkitab barkata bahwa Tuhan "menaruh kasih kepadanya", maka Tuhan berkata: "Jual segala milikmu, bagikan kepada orang miskin dan datanglah ikut Aku". Namun undangan istimewa ini tidak diresponi secara benar, ia pergi sebab "hartanya banyak". Harta telah memasung hatinya sehingga ia tidak sanggup dipasung oleh Tuhan. Tuhan menarik pria ini untuk mengikut Tuhan bukan karena Tuhan membutuhkannya, tetapi ia membutuhkan Tuhan mengingini sesuatu hidup yang berkualitas atau hidup kekal. Oleh sebab itu kita tidak boleh lagi dikesankan dan mengesankan kepada orang lain, apalagi mengajarkan bahwa Tuhan seolah-olah membutuhkan kita. Untuk ini ada dua catatan penting yang harus diperhatikan.
Pertama, hendaknya kita tidak beranggapan bahwa Tuhan membutuhkan kita untuk memuji dan menyembah Dia. Kiranya kita tidak berpikir seolah-olah Tuhan adalah pribadi yang gila hormat. Orang yang gila hormat sangat tergantung lingkungannya, sebab ia mengharapkan lingkungannya memberi penghormatan kepadanya. Ia tidak dapat hidup tanpa lingkungan yang menghormatinya. Berbeda dengan Tuhan, Tuhan memiliki kerajaan dimana berlaksa-laksa makhluk sorgawi memuji menyembah Tuhan dengan kualitas yang sangat sempurna. Dikatakan dalam Alkitab bahwa para malaikat dan makhluk sorgawi memuji dan menyembah Tuhan selamanya (Wahyu 4:8-11. "Dan keempat makhluk itu masing-masing bersayap enam, sekelilingnya dan di sebelah dalamnya penuh dengan mata, dan dengan tidak berhenti-hentinya mereka berseru siang dan malam: "Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Maha Kuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang". Dan setiap kali makhluk-makhluk itu mempersembahkan puji-pujian, dan hormat dan ucapan syukur kepada Dia, yang duduk diatas takhta itu dan yang hidup sampai selama-lamanya, maka tersungkurlah kedua puluh empat tua-tua itu dihadapan Dia yang duduk diatas takhta itu, dan mereka menyembah Dia yang hidup sampai selama-lamanya. Dan mereka melemparkan mahkotanya dihadapan takhta itu, sambil berkata: "Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan".)
Demikianlah kalau kita diperkenan memuji dan menyembah Tuhan itu berarti kita dipersiapkan menjadi makhluk sorgawi, penghuni kerajaan-Nya. Bukan karena Tuhan gila hormat. Jadi kalau kita tidak sungguh-sungguh mengangkat hati memuji dan menyembah Tuhan atau kalau kita menolak belajar memuji menyembah Tuhan adalah satu hal yang bukan saja patut disayangkan tetapi juga sangat membahayakan karena dapat mencelakakan. Tidak ada orang yang tidak menghormati Tuhan masuk kerajaan-Nya. Sosok pribadi yang pertama kali menolak memuji dan menyembah Tuhan tetapi sebaliknya menuntut kedudukan yang sama dengan Tuhan adalah Lucifer. Karena pemberontakannya ia dibuang kedalam api kekal dan tidak beroleh kesempatan lagi menjadi sekutu Tuhan. Lucifer menolak beraku makhluk ciptaan yang harus tunduk memberi hormat dan pujian kepada Tuhan. Ia tidak menerima naturnya atau kodratnya sebagai makhluk ciptaan. Padahal kalau menerima dengan lapang dan ucapan syukur natur atau kodratnya, sangat membahagiakan, tetapi karena keserakahannya Lucifer memberontak. Pemberontakannya merupakan isyarat seolah-oleh menjadi makhluk ciptaan tidak cukup memberikan kesenangan, kebahagiaan dan kelimpahan. Lucifer menuntut lebih dari sekedar menjadi makhluk ciptaan, akibatnya mengalami kedahsyatan kebinasaan. Spirit seperti ini dihembuskan kepada manusia pertama di Eden dalam bujukan: "Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat" (Kej 3:4-5). Karenanya kita harus menerima dengan lapang kodrat atau nature kita sebagai makhluk ciptaan, dengan demikian kita dapat menempatkan diri dihadapan-Nya dengan benar. Memuji dan menyembah Tuhan dari sikap hati yang benar merupakan irama hidup kita yang sangat membahagiakan. Memuji dan menyembah Tuhan sebenarnya bukan hanya masalah mengucapkan syair pujian dan penyembahan atau memahami fluktuasi atau turun naiknya nada, tetapi pengenalan akan Tuhan. Seseorang harus mengenal Tuhan secara benar dari pa yang Alkitab ajarkan kemudian belajar menggumuli kebenaran itu dari hari ke hari, sehingga mengalamu Tuhan secara konkrit. Dari pengenalan tersebut terbangun pemahaman akan Tuhan. Pemahaman tersebut membangkitkan kekaguman akan Tuhan dan kekaguman tersebut melandasi kita memuji dan menyembah Tuhan. Hendaknya kita tidak beranggapan bahwa tanpa kita dibumi ini memuliakan nama Tuhan, maka nama-Nya tidak dimuliakan. Kalau manusia tidak memuji Tuhan, Tuhan sanggup membuat batu-batu memuji Tuhan.
Kedua, hendaknya kita tidak beranggapan bahwa Tuhan memaksa kita untuk melakukan pekerjaan-Nya atau mendesak kita membantu pekerjaan-Nya guna melengkapi rencana-Nya. Dengan ini kita beranggapan Tuhan membutuhkan kita. Tuhan sebenarnya bisa tidak melibatkan kita dalam rencana-rencana besar-Nya. Tuhan bisa mengerjakan-Nya sendiri. Ia sangat mampu baik dengan tangan-Nya sendiri atau melalui para malaikat-Nya, tetapi Tuhan tidak bertindak demikian. Tuhan melibatkan kita dalam pekerjaan-Nya atau hidup mengabdi kepada-Nya sebab Tuhan mau kita menemukan tempat kita sebagai makhluk ciptaan yang pada naturnya mengabdi kepada Tuhan. Sekaligus Tuhan hendak memberi kesempatan kepada kita untuk dimuliakan pada waktu Tuhan Yesus dimuliakan. Tuhan tidak tunduk kepada siapa-siapa, Ia tunduk kepada diri-Nya sendiri. Dalam dirinya ada hukum, apa yang ditabur orang itu juga dituainya. Tidak mungkin Tuhan memberikan mahkota tanpa salib, upah tanpa kerja, kemuliaan tanpa penderitaan, perhentian tanpa kekekalan. Alkitab mencatat bahwa hanya orang yang menderita bersama dengan Tuhan yang akan dimuliakan (Roma 8:17 Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia). Walaupun kita adalah anak bagi Allah Bapa kita, tetapi kita tidak akan menjadi ahli waris kalau kita tidak berlelah untuk pekerjaan-Nya.
Pelayanan pekerjaan yang dipercayakan kepada kita adalah salib yang membuat kita merasa lelah atau benar-benar menderita. Penderitaan itu antara lain: penguasaan diri agar tidak menjadi batu sandungan, korban waktu, korban tenaga, uang harta kita dan lain sebagainya untuk keselamatan orang lain dan pendewasaannya. Ini adalah pekerjaan yang menuntut segenap hidup kita. Para pelayan Tuhan harus menawarkan proyek-proyek pekerjaan Tuhan kepada jemaat tanpa takut-takut kepada jemaat. Takut di cap mata duitan, memanipulasi pelayanan dan lain sebagainya. Juga menghindari sikap seolah-olah Tuhan tidak berdaya dan kita mengemis. Mengemis disini maksudnya adalah bahwa Gereja tidak boleh "nunduk-nunduk jual diri" kepada para "pemodal" supaya mendapat dukungan finansial untuk pekerjaan-Nya. Kesempatan berkorban kepada Tuhan adalah hal luar biasa.
Kita lihat pada saat pemilu presiden dan wakil presiden misalnya, tentu banyak orang memberi dukungan calonnya. Motif yang bisa timbul adalah kalau calon yang di dukung menjadi pemimpin dan petinggi negara maka si pendukung bisa "kebagian" rezeki atau paling tidak memiliki relasi penguasa untuk "memback-up hidupnya dan keluarganya". Mengapa kita tidak berbuat demikian bagi Tuhan? Tentu dukungan kita kepada pekerjaan-Nya motif utamanya bukan hal tersebut, kita mendukung pekerjaan-Nya karena kita telah menerima kebaikan-Nya dalam hidup kita adalah miliknya yang harus dipersembahkan sepenuh bagi Tuhan pemilik hidup kita. Satu kali nanti kalau Tuhan menyatakan diri kita akan dimuliakan bersama-sama dengan Dia dalam kerajaan-Nya. Perlu kita mencatat satu peristiwa dalam Alkitab mengenai sikap Tuhan terhadap orang pilihan yang tidak dapat dipercayai sehingga Tuhan menarik kepercayaan tersebut dan menyerahkannya kepada orang lain. Dikisahkan mengenai raja yang ditunjuk untuk menggembalakan Israel umat Allah, tetapi raja itu yaitu Saul tidak menjadi hamba yang baik bagi Tuhan yang memberi mandat kepadanya untuk melayani-Nya. Tuhan mencopot jabatan raja tersebut dan memberikannya kepada orang lain, yaitu Daud seorang yang berkenan kepada Tuhan.
Hal ini yang paling saya takutkan, kalau kita menolak pekerjaan yang Tuhan berkenan percayakan kepada kita Tuhan dapat menggantikannya kepada orang lain. Ini berarti kita tidak akan berkesempatan dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus. Kalau kita diperkenankan mengambil bagian dalam pekerjaan-Nya dengan waktu, tenaga dan harta kita itu adalah anugerah sebab melalui kita akan menerima yang jauh lebih berharga dari apapun yang kita korbankan bagi Tuhan hari ini. Bila kesempatan untuk melayani Tuhan belum tertutup, mari kita melayani-Nya. Melayani Tuhan hendaknya menjadi irama hidup kita, seperti Tuhan Yesus berkata: Makananku adalah melakukan kehendak bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Yoh 4:34).
Tuhan mengatakan ini ketika Ia menantikan seorang perempuan Samaria yang kesepian dan kehausan damai sejati yaitu damai Tuhan. Wanita yang bergulir menuju kegelapan abadi ini ditangkap Tuhan dan ia menerima-Nya. Akhirnya memuji, menyembah Tuhan serta melayani-Nya bagi kita adalah kebutuhan. Kita harus berprinsip tanpa hal itu lebih baik kita tidak hidup atau tidak menjadi manusia. Doa kita: Tuhan beri aku kesempatan untuk ini. Aku membutuhkan Engkau bukan karena berkat-berkat-Mu yang kunikmati tetapi juga kesempatan untuk mengabdi dan melayani-Mu..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar